Jumat, 13 Mei 2011

Berat jenis dan kerapatan kayu


 Kerapatan suatu benda yang homogen adalah massa atau berat persatuan volume, sehingga kerapatan selalu dinyatakan dengan satuan gram/cm3 atau kg/m3. Massa atau berat dan volume pada perhitungan kerapatan kayu dapat menggunakan berbagai macam kondisi kayu (kondisi segar/basah, kering udara, kadar air tertentu dan kering tanur) . Berat jenis tidak bersatuan (unitless) karena merupakan perbandingan berat benda terhadap berat dari volume air yang sama dengan volume benda yang diukur atau dapat juga didefinisikan sebagai perbandingan antara kerapatan kayu (atas dasar berat kering tanur dan volume pada berbagai kondisi kayu) terhadap kerapatan air pada suhu 40C. Air memiliki kerapatan 1 g/cm3 atau 1000 kg/m3 pada suhu standar tersebut. Karenanya kayu dengan berat jenis 0,50 mempunyai kering 0,50 gram/cm3 atau 500 kg/m3. Dalam sistem Inggris, air memiliki kerapatan 62,4 pon/kk3 . Karenanya, kerapatan sepotong kayu dengan berat jenis 0,50 adalah 0,50 x 62,4 atau 31,2 pon/kk3 (berat kering tanur per unit volume pada kandungan air tertentu).
Berat jenis sangat menarik untuk dipelajari karena mempunyai pengaruh yang sangat erat dengan kekuatan kayu dan merupakan indeks terbaik yang menunjukkan jumlah substansi dari sepotong kayu kering dalam hubungannya dengan indeks sifat-sifat kekuatan kayu. Meskipun berat jenis merupakan petunjuk yang baik untuk meramal kekuatan kayu tetapi harus diperhatikan pula bahwa bagaimanapun juga nilai berat jenis dipengaruhi oleh adanya getah, resin dan ekstraktif yang mana pengaruhnya kecil bagi kekuatan kayu.
Kerapatan kayu di dalam suatu spesies ditemukan bervariasi dengan sejumlah faktor yang meliputi letaknya di dalam pohon, letak dalam kisaran spesies tersebut, kondisi tempat tumbuh, dan sumber sumber genetik. Beberapa pola variasi berat jenis yang telah dilaporkan oleh Panshin dan de Zeeuw (1980) dalam berbagai posisi batang yaitu pada arah radial (dari empulur/hati ke arah kulit) yaitu sebagai berikut :
1. Berat jenis kayu naik dari hati ke arah kulit
2. Berat jenis kayu tinggi pada bagian hati, menurun selama beberapa tahun kemudian naik sampai maksimum ke arah dekat kulit
3. Berat jenis naik pada riap-riap dekat hati, kemudian lebih kurang konstan semakin mendekati kulit
4. Berat jenis mendekati kulit semakin menurun.
Sedangkan pola variasi berat jenis pada arah longitudinal batang (dari pangkal ke arah ujung batang) dikemukakan sebagai berikut :
1. Turun dengan seragam dari pangkal ke pucuk
2. Turun di pangkal dan naik di pucuk
3. Naik dari pangkal ke pucuk dengan pola yang tidak seragam
Perhitungan berat jenis banyak disederhanakan dalam sistem metrik karena 1 cm3 air beratnya tepat 1g maka berat jenis dapat dihitung secara langsung dengan membagi berat dalam gram dengan volume dalam sentimeter kubik (cm3). Berdasarkan angka, maka kerapatan (R) dan berat jenis (BJ) adalah sama. Namun, berat jenis tidak mempunyai satuan karena berat jenis adalah nilai relatif.
Unit umum = g/cm3 , kg/m3, pon/kk3
Mencari kerapatan dapat menggunakan rumus seperti di bawah ini :
Kerapatan(R) = massa/volume
Massa atau berat serta volume untuk mencari nilai kerapatan bisa menggunakan kondisi yang bermacam-macam (kondisi segar atau basah, kondisi kering udara, kondisi kadar air senyatanya atau kering tanur). Untuk mencari besarnya berat jenis dapat digunakan rumus sebagai berikut
BJ = (massa kering tanur / volume) / kerapatan air
Kerapatan air = 62,4 pon/kk3, 1 g/cm3, 1000k g/

Kamis, 05 Mei 2011

Akar Tumbuhan Bisa Menjadi Pewarna Kain Batik - Thread Not Solved Yet


Akar Tumbuhan Bisa Menjadi Pewarna Kain Batik - Thread Not Solved Yet

Haris Riadi, seniman batik Desa Pekajangan, Kedungwuni, Pekalongan, Jawa Tengah, kembali menemukan terobosan baru di dunia batik, belum lama ini. Ia mengolah berbagai tumbuhan dan akar seperti temulawak, akar mengkudu, kayu manis, dan jelawemenjadi zat pewarna batik. Selama ini tetumbuhan tersebut dikenal sebagai bahan baku pembuat jamu.

Haris menjelaskan selain wangi, zat pewarna batik dari tumbuhan dan akar diyakini mampu memberi rasa hangat pada pemakai batik.Selain itu, harga bahan-bahan alami ini juga jauh lebih murah dibanding zat-zat pewarna kimia yang selama ini digunakan para pembatik umumnya.Yang lebih penting lagi, kata Haris, limbah dari pewarna alami aman dan tidak merusak lingkungan.

Haris mengatakan, untuk menghasilkan warna-warna alami, tumbuhan serta akar-akaran terlebih dulu direbus hingga mendidih. Agar bisa menghasilkan warna kecoklatan, diperlukan kombinasi kayu manis, akar mengkudu, dan jelawe.

Haris berharap dengan penemuan bahan pewarna alami ini, pencemaran lingkungan akibat limbah batik bisa dikurangi.Apalagi selain mudah didapat, karya batik dari warna alami itu juga memiliki harga jual yang relatif lebih mahal dibanding batik pewarna kimia.

Pewarna Alami untuk Batik Nabati

11 Nopember 2008 No Comment
Pewarna alami tak hanya sehat untuk makanan.Untuk pakaian pun, pewarna non-kimia itu juga berefek baik bagi tubuh.Salah satunya tidak membuat kulit iritasi, gatal-gatal atau alergi.
Penggunaan pewarna alami untuk pakaian salah satunya diterapkan pada batik nabati dari Kota Batu.Batik yang kesannya “adem” itu menjadi salah satu karya yang dipamerkan dalam Seminar Green Product di Widyaloka Universitas Brawijaya, kemarin.
Jenis pewarna alami pun bermacam-macam. Di antaranya buah pinang untuk warna merah, kayu manis untuk warna kecokelatan, daun jambu biji untuk warna kecoklatan dan daun alpukat untuk warna hijau. “Warna-warna itu, nantinya dicampur lilin dan dimasukkan dalam canting untuk membatik,” ungkap Yusuf, salah seorang pengelola Olive batik.
Menurut Yusuf, warna-warna alami memang tidak “ngejreng” seperti halnya warna sintetis. Batik nabati justru terlihat kusam dan terkesan lawas. Kecuali, dikombinasi atau dipadukan dengan pewarna sintetis dalam kadar tertentu. Sementara batik cetak, warna dan ornamennya terlihat lebih menyala dan terang.“Kalau penyuka batik, pasti tahu batik yang terkesan lawas ini menggunakan pewarna alami ini,” kata Yusuf.
Untuk batik-batik dengan pewarna alami yang harus dibatik dengan tangan, konsumennya terbatas.Lebih condong pada konsumen kelas atas, termasuk kalangan pengusaha. Karena konsumennya khusus itu, maka harganya juga jauh lebih mahal dari batik cap (buatan pabrik). “Orang-orang Cina banyak yang suka.Memang mereka cari yang alami dan asli kerajinan tangan,” tandas Yusuf. (yos/lia/radarmalang)
Keywords: batik, seminar, UB
KULIT MANGGIS SEBAGAI PEWARNA BATIK ALAMI
18 June, 2010 - 13:26 by dedy  
Batik merupakan salah satu kerajinan yang mempunyai nilai seni tinggi dan menjadi budaya Indonesia yang terkenal sampai ke berbagai negara dan diakui UNESCO.Diantara berbagai jenis batik, batik alam merupakan jenis batik yang berkualitas tinggi, dan banyak diminati wisatawan baik domestik maupun wisatawan mancanegara.Hal itu dikarenakan batik alam diproduksi dengan pewarna alami dan memberikan kesan tersendiri sebab pewarna alami menyebabkan limbah yang dihasilkan ramah lingkungan dan aman untuk kesehatan karena zat-zat yang terkandung dalam pewarna alami dapat mudah terurai sehingga tidak menimbulkan polusi, bahkan warna batik yang dihasilkan pewarna alam dapat bertahan sampai puluhan tahun.Namun, keunggulan batik alam tersebut tidak didukung kondisi saat ini. Kendala yang dialami oleh pengrajin batik alam adalah mereka sulit untuk bisa memenuhi permintaan secara cepat karena batik alam memerlukan waktu yang lama dalam proses pembuatannya dan ketersediaaan bahan baku pewarna alam masih sangat minim. Bahan pewarnanya didapat dengan cara mengekstrak bagian-bagian dari tumbuhan penghasil celup, seperti batang, kulit kayu, daun, akar-akatran, bunga, biji-bijian, buah-buahan, dan getah pohon.
Melihat fakta tersebut, sekelompok mahasiswa UNY yaitu Annisa Saraswati jurusan kimia dan Devy Indah Lestari jurusan pendidikan IPA FMIPA UNY serta Bexzy Kurnilasari jurusan pendidikan teknik busana FT UNY mengeksploitasi kulit manggis sebagai pewarna alam untuk kain batik. Menurut Annissa Saraswati, mereka tertarik melakukan penelitian ini karena mengetahui bahwa kulit manggis mempunyai kandungan kimia yang banyak dan sangat menguntungkan. Kulit manggis mempunyai pigmen warna yang cocok untuk dijadikan sebagai pewarna serta mengandung sejumlah pigmen yang berasal dari dua metabolit, yaitu mangostin dan β-mangostin. Jika semua kandungan yang terdapat pada buah manggis tersebut diekstraksi, maka akan didapati bahan pewarna alami berupa antosianin yang menghasilkan warna merah, ungu, dan biru. Kulit buah manggis juga mengandung flavan-3,4-diols, yang tergolong senyawa tannin dan dapat digunakan sebagai pewarna alami pada kain. Tannin adalah salah satu zat warna yang terdapat dalam berbagai tumbuhan dan yang paling baik adalah dalam manggis. Devy Indah Lestari menambahkan bahwa selama ini bahan pewarna alami yang digunakan antara lain daun pohon nila (Indofera), kulit pohon soga tingi (Ceriops candolleans arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit (curcuma), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana), dan daun jambu biji (Psidium guajava). Melalui pemanfaatan kulit manggis sebagai pewarna alami kain batik, diharapkan meningkatkan hasil produksi kain batik alam karena dapat membantu para pengrajin batik untuk memperoleh bahan baku pewarna alam selain menjadi sarana pengolahan limbah sehingga meningkatkan nilai guna buah manggis.
Bexzy Kurnilasari menerangkan pembuatan pewarna alami kain batik meliputi 2 tahap, membutuhkan sebanyak 2 kg kulit manggis kering.Dua kg kulit manggis kering dapat menghasilkan 80 liter pewarna kulit manggis.Tahap pertama pembuatan kulit manggis menjadi pewarna alam, dan tahap kedua pembuatan kain batik dari pewarna kulit manggis tersebut. Adapun tahapan proses pembuatan pewarna alam adalah kulit manggis dicuci, dikeringkan dan dihaluskan agar dalam ekstraksi mendapatkan hasil sempurna lalu diblender. Kemudian dimasukkan dalam petroleum eter. Setelah lemak dipisahkan kulit manggis diekstrak menggunakan etanol 95 % sedangkan larutan basa berair diekstrak dengan klorofom agar tannin terpisah dengan senyawa lainnya, lalu diuapkan untuk mendapatkan kristal warna coklat yang digunakan untuk mewarnai batik. Sedangkan pembuatan kain batik dari pewarna kulit manggis adalah kain dibuat motifnya lebih dahulu setelah itu dilakukan perekatan dengan malam untuk menahan warna. Proses berikutnya disebut medel yaitu pencelupan warna dasar kain pada zat warna yang berasal dari pengenceran kristal kulit manggis. Dilanjutkan dengan ngerok atau menghilangkan malam klowongan dan pengunaan malam ketiga (mbironi) disambung dengan menyoga / pencelupan zat warna yang kedua, ditambah memfiksasi kain dengan fiksator. Proses tersebut dilakukan berkali-kali sampai mendapatkan warna yang didinginkan. Selanjutnya mbabar/nglorod yaitu pembersihan seluruh malam yang menempel di kain dengan cara dimasak dalam air mendidih dengan ditambah air tapioka lalu dicuci dan dikeringkan dengan tidak terkena sinar matahari secara langsung

Rabu, 04 Mei 2011

Cara Budidaya Eucalyptus


A.Umum
Sub jenis Eucalyptus spp, merupakan jenis yang tidak membutuhkan persyaratan yang tinggi terhadap tanah dan tempat tumbuhnya. Kayunya mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi untuk dipakai sebagai kayu gergajian, konstruksi, finir, plywood, furniture, dan bahan pembuatan pulp dan kertas. Oleh karena itu jenis tanaman ini cenderung untuk selalu dikembangkan.

Jenis Eucalyptus termasuk jenis yang sepanjang tahun tetap hijau dan sangat membutuhkan cahaya. Tanaman dapat bertunas kembali setelah dipangkas dan agak tahan terhadap serangan rayap. Pertumbuhan tanaman ini tergolong cepat terutama pada waktu muda. Sistem perakarannya yang masih muda cepat sekali memanjang menembus ke dalam tanah. Intensitas penyebaran akarnya ke arah bawah hampir sama banyaknya dengan ke arah samping.

B.Keterangan Botani
Eucalyptus spp. termasuk famili Myrtaceae, terdiri dari kurang lebih 700 jenis. Jenis Eucalyptus dapat berupa semak atau perdu sampai mencapai ketinggian 100 meter umumnya berbatang bulat, lurus, tidak berbanir dan sedikit bercabang. Pohon pada umumnya bertajuk sedikit ramping, ringan dan banyak meloloskan sinar matahari. Percabangannya lebih banyak membuat sudut ke atas, jarang-jarang dan daunnya tidak begitu lebat. Daunnya berbentuk lanset hingga bulat telur memanjang dan bagian ujungnya runcing membentuk kait. Pada pohon yang masih muda letak daunnya berhadapan bentuk dan ukurannya sering berbeda dan lebih besar daripada pohon tua. Pada umur tua, letak daun berselang-seling. Ciri khas lainnya adalah sebagian atau seluruh kulitnya mengelupas dengan bentuk kulit bermacam-macam mulai dari kasar dan berserabut, halus bersisik, tebal bergaris-garis atau berlekuk-lekuk. Warna kulit mulai dari putih kelabu, abu-abu muda, hijau kelabu sampai coklat, merah, sawo matang sampai coklat.

C.Tempat tumbuh
1.      Penyebaran.
Daerah penyebaran alaminya berada di sebelah Timur garis Walace, mulai dari 7°' LU sampai 43°39' LS sebagian besar tumbuh di Australia dan pulau-pulau di sekitarnya. Beberapa jenis tumbuh luas di Papua New Guinea dan jenis-jenis tertentu terdapat di Sulawesi, Papua, Seram, Philippina, pulau di Nusa Tenggara Timur dan Timor Timur.
2.      Persyaratan tempat tumbuh.
Jenis-jenis Eucalyptus terutama menghendaki iklim bermusim (daerah arid) dan daerah yang beriklim basah dari tipe hujan tropis. Jenis Eucalyptus tidak menuntut persyaratan yang tinggi terhadap tempat tumbuhnya. Eucalyptus dapat tumbuh pada tanah yang dangkal, berbatu-batu, lembab, berawa-rawa, secara periodik digenangi air, dengan variasi kesuburan tanah mulai dari tanah-tanah kurus gersang sampai pada tanah yang baik dan subur. Jenis Eucalyptus dapat tumbuh di daerah beriklim A sampai C dan dapat dikembangkan mulai dari dataran rendah sampai daerah pegunungan yang tingginya per tahun yang sesuai bagi pertumbuhannya antara 0 - 1 bulan dan suhu rata-rata per tahun 20° - 32°C.




D. Persiapan lapangan
1.      Penataan lapangan.
Penataan areal penanaman dimaksudkan untuk mengatur tempat dan waktu, pengawasan serta keperluan pengelolaan hutan lebih lanjut. Areal dibagi menjadi blok-blok tata hutan dan blok dibagi lagi menjadi petak-petak tata hutan. Unit-unit ini ditandai dengan patok dan digambar di atas peta dengan skala 1 : 10.000. Batas-batas blok dapat di pakai berupa abtas alam seperti sungai, punggung bukit atau batas buatan seperti jalan, patok kayu atau beton.

2.    Pembersihan lapangan.
Beberapa kegiatan yang dilakukan sebelum penanaman meliputi :
a.       Menebang pohon-pohon sisa dan meninggalkan pohon yang dilarang ditebang.
b.      Mengumpulkan semak belukar, alang-alang dan rumput-rumputan.
c.       Sampah-sampah yang telah dikumpul dibakar.

3.    Pengolahan tanah.
Pengolahan tanah diperlukan pada tanah-tanah yang padat dengan cara sebagai berikut :
a.       Tanah dicangkul sedalam 20 - 25 cm kemudian dibalik
b.      Bungkalan-bungkalan tanah dihancurkan, akar-akar dikumpulkan, dijemur dan dibakar
c.       Tanah pada jalur-jalur tanaman dihaluskan dan dibersihkan, kemudian dibuat lubang tanaman.

E. Penanaman dan pemeliharaan
1.         Sistem penanaman.
Sistim penanaman yang dapat dipilih yaitu tumpangsari, cemplongan dan jalur dengan cara sebagai berikut :
a.         Sistim tumpang sari.
Dalam sistim ini pembuatan tanaman dilakukan berdasarkan perjanjian antara pihak kehutanan dengan para petani peserta tumpangsari selama jangka waktu 2,5 tahun. Lokasi tanaman untuk keperluan tumpangsari harus memenuhi syarat-sayarat :
• Tanah dalam keadaaan subur
• Kemiringan areal tidak melebihi 40 %
• Ketersediaan tenaga kerja cukup
• Kebutuhan masyarakat terhadap tanah garapan
• Dalam pelaksanaan tumpangsari perlu diperhatian hal-hal sebagai berikut :
a) Pada jarak tanam 30 cm di sisi kiri-kanan larikan tanaman pokok dan tanaman sela tidak diperkenankan ditanam palawija.
b) Tanaman palawaija yang menggangu pertumbuhan tanaman pokok dan tanaman sela tidak diperkenankan untuk ditanam. Jenis-jenis tanaman tersebut antara lain ketela pohon, ketela rambat, pisang, sereh, kentang, kol dan akar wangi.
b. Sistem cemplongan.
Dalam sistim cemplongan tanaman pokok ditanam dalam lubang pada larikan yang telah disiapkan, pembersihan hanya dilakukan pada radius 1 - 2 meter di sekeliling lubang tanaman. Sistim ini sangat baik dilakukan pada areal yang kemiringannya melebihi 40% (mudah terkena erosi), areal hutan lindung dan di daerah yang sulit diperoleh tenaga kerja.
c. Sistim jalur.
Pembuatan tanaman dengan sistim jalur pelaksanaannya sama seperti sistim cemplongan, hanya pada sistim jalur pembersihan lapangan dilakukan sepanjang larikan bakal tanaman.

2.         Waktu penanaman.
Penanaman dilakukan setelah hujan lebat turun pada musim hujan, pada umumnya bulan Oktober sampai Januari. Pengamatan awal hujan sangat penting, karena bibit yang baru ditanam memerlukan banyak air dan udara lembab.

3.   Pengangkutan bibit.
Bibit yang telah diseleksi dimasukkan ke dalam keranjang atau peti kemudian diangkut ke lokasi penanaman dengan hati-hati agar bibit tanaman tidak mengalami kerusakan selama dalam perjalanan. Bibit disusun rapat hingga tidak bergerak jika dibawa dan disarankan tidak ditumpuk. Bibit yang diangkut diusahakan bibit yang sehat dan segar serta jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan menanam. Sebaiknya bibit dihindarkan dari panas matahari dan supaya disimpan di tempat yang teduh dan terlindung.

4.   Teknik penanaman.
Bibit ditanam tegak sedalam leher akar. Apabila terdapat akar yang menerobos keluar dari kantong plastik dipotong agar tidak terlipat dan tertanam di dalam lubang tanaman. Sebelum ditanam tanah dalam kantong plastik dipadatkan, kemudian kantong plastik dibuka perlahan-lahan lalu tanah dan bibit dikeluarkan baru ditanam. Bibit ditanam berdiri tegak pada lubang yang telah dibuat pada setiap ajir, kemudian diisi dengan tanah gembur, sampai leher akar. Tanah yang ada di sekelilingnya ditekan agar menjadi padat.

5.   Pemeliharaan.
Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan maka kegiatan pemeliharaan ini mutlak dilaksanakan setiap 3 bulan sekali sampai tanaman berumur 2 tahun setelah di lapangan dan pendangiran.
a.         Penyiangan.
Yang dimaksud penyiangan adalah pembebasan tanaman dari belukar dan tumbuhan pengganggu lainnya. Jenis Eucalyptus merupakan jenis cahaya dan penanamannya akan berhasil apabila dilakukan penyiangan secara intensif. Oleh karena itu penyiangan sangat penting dan harus dilaksanakan menurut kebutuhan, terutama dalam tahun pertama dan tahun kedua. Setelah disiangi, tanah perlu digemburkan terutama tanah yang di sekeliling lubang tanam.
b.    Penyulaman.
Penyulaman dilakukan dalam tahun pertama dan tahun kedua selama musim hujan dalam tahun pertama, tanaman yang mati atau merana disulam dengan bibit dari persemaian. Penyulaman dalam tahun kedua dilakukan pada saat hujan pertama jatuh.
c.    Pemupukan.
Pemupukan dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan dan pendangiran, dimana pupuk NPK, (KCL : TSP : Urea) dengan perbandingan 1 : 2 : 1 ditaburkan disekitar lubang tanam, banyaknya pupuk sesuai dengan pengalaman pemberian pupuk di lapangan.

6.  Hama dan penyakit.
Hama dan penyakit yang menyerang tanaman Eucalyptus adalah :
a.         Busuk akar.
 Bagian tanaman yang diserang adalah banir dan akar. Pada kulit terdapat benang-benang berwarna putih yang apabila dibasahi berwarna kuning dan rontok, ranting mati. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengatasi busuk akar, yaitu pohon yang sakit ditebang, tunggak dan akar dibongkar.

b. Rengas, rinyuh atau rayap (Coptotermes curvignatus).
Bagian yang diserang adalah batang dan akar. Rayap mulai menyerang dari akar samping atau akar tunggang. Tanda yang lain yang dapat dilihat yaitu pangkal batang dari pohon yang terserang berwarna coklat hitam. Untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan menghancurkan sarangnya atau mencampur insektisita tertentu di sekitar tanaman misalnya dieldrin atau aldrin.

c. Cendawan akar putih (Corticium salmonicolor).
Bagian yang diserang biasanya bagian bawah dari cabang dan ranting. Bagian tersebut akan tampak adanya lapisan benang-benang cendawan yang berwarna putih yang lama-kelamaan menjadi merah jingga. Kulit pohon di bawah benang menjadi belah dan busuk. Cara untuk mengatasinya dengan memperbanyak masuknya udara dan sinar matahari. Serangan yang masih baru diberik fungisida kemudian dikupas dan dibakar. Apabila serangan sudah lanjut, pohon ditebang dan dibakar.

d. Cendawan akar merah (Ganoderma pseudoferreum).
Akibat serangan ini pohon menjadi layu dan merana dan bila serangan sudah lanjut pohon akan mati. Cara mengatasinya dengan menebang pohon yang sakit, membongkar tunggak dan akarnya dibakar atau dengan menggunakan fungisida pada bekas tanaman atau pohon yang diserang.


Sumber : Badan LITBANG Departemen Kehutanan. 1994. Pedoman teknis penanaman jenis-jenis kayu komersial.